Jumat, 24/05/2013
Home | Tekno | Artikel | JATENG GUIDE | Seni-Budaya | Figure | Sehat | NEWS | Olahraga | DuniaWanita | InfoJateng | SEMARANG GUIDE | Foto |

KOMPETISI SENI GRAFIS INDONESIA
Ditulis Oleh :Kasminanto, Biro Jakarta, Pada Tanggal : 04 - 10 - 2012 | 23:57:48



“Setelah diadakan roadshow untuk menjaring para pegrafis dari berbagai kota, di antaranya dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Solo, Bali, Surabaya, Makasar, Medan, Padang dan Jambi, maka tibalah saatnya diselenggarakan pameran dan sekaligus pengumuman pemenang “Lomba Trienal Seni Grafis Indonesia IV 2012” di Bentara Budaya Jakarta,” tutur Mirna Wijayati dari Bentara Budaya Jakarta pada wartawan Obyektif Cyber Magazine Biro Jakarta, Kasminanto, baru-baru ini.

Lebih lanjut ditambahkan, minat dan semangat para pegrafis di daerah untuk mengikuti kompetisi seni grafis kali ini menunjukkan peningkatan jumlah peserta yang signifikan dibanding tiga tahun sebelumnya. Sebanyak 405 grafis hasil kreasi 224 pegrafis, dikompetisikan dalam Trienal Seni Grafis 2012 yang menampilkan teknik cetak yang beragam. Keragaman itu bisa dilihat dari teknik cukil kayu, etsa, litografi, linocut, sampai teknik yang mengkombinasikan beberapa teknik cetak dalam satu bingkai bidang gambar.

Selanjutnya, juri telah memilih 51 karya finalis untuk menentukan tiga karya terbaik. Karya-karya terbaik dan para finalis inilah yang bakal dipamerkan keliling ke empat venue Bentara Budaya, Jakarta, Jogjakarta, Solo, Bali. Kemungkinan juga digelar di Surabaya, Bandung dan beberapa kota lagi. Penyelenggaraan Trienal yang ke-4 ini, sejak 2003, berharap dapat menjadi momentum untuk mencatat pertumbuhan kualitas dan kuantitas pegrafis secara individual maupun komunitas.

Tujuannya sangat jelas sebagai jawaban atas kelangkaan pameran seni grafis yang melindas dunia seni rupa Indonesia mutakhir, juga sebagai upaya untuk melakukan pengukuhan terhadap eksistensi seni grafis Indonesia. Dalam peresmian pameran akan diumumkan pula ketiga karya terbaik dalam kompetisi Trienal Seni Grafis IV. Penyelenggaraan Trienale Seni Grafis kali ini memasuki babak yang ke-4. Menurut Mirna, tujuannya tak berubah sejak pertama kali diselenggarakan pada 2003, yaitu selain berperan sebagai jawaban atas kelangkaan pameran seni grafis yang melanda dunia seni rupa Indonesia mutakhir, juga sebagai upaya untuk melakukan pengukuhan terhadap eksistensi seni grafis Indonesia.

Seperti yang telah dilakukan pada trienale sebelumnya, kali ini tetap  berupaya  kembali pada teknik cetak konvensional. Kategori teknik yang dimaksud adalah karya-karya seni grafis yang merujuk pada teknik-teknik konvensi seni grafis yaitu cetak tinggi (cukilan kayu, lino), cetak datar (litografi), cetak dalam (etsa, mezzotint, engraving, dry point, collagraphy) dan cetak saring (sablon).

Sesungguhnya ada gagasan untuk mengembangkan cakupan peserta ke wilayah yang lebih luas yaitu  kawasan Asia Tenggara, agar dapat diharapkan tercipta suatu keragaman yang tidak hanya menyangkut persoalan peristilahan seni grafis, namun juga memindai perkembangan seni grafis Asia Tenggara agar bisa terbaca secara lebih jernih. Namun upaya untuk mengundang para pegrafis Asia Tenggara ini harus ditunda dan diupayakan akan menjadi kenyataan pada trienale selanjutnya. Kami bersepakat untuk berkonsentrasi mengajak para pegrafis Indonesia tanpa mempersoalkan wilayah geografis.

Bahkan diagendakan untuk melakukan roadshow ke beberapa kota, untuk menjangkau para pegrafis di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Tentu saja peluang mengikuti trienale seni grafis ini terbuka bagi perupa-perupa dari daerah lain, karena sifatnya sangat terbuka bagi para perupa di mana pun berdomisili. Bentara Budaya berharap acara ini akan menggugah semangat dan menyedot keikutsertaan para perupa di Indonesia untuk mengeksplorasi dan berekspresi seni rupa lewat seni grafis. (Kasminanto).

 

JADWAL LENGKAP PAMERAN

 1.Pameran & Pengumuman Pemenang Lomba Trienal Seni Grafis Indonesia IV 2012. Pembukaan Pameran : Kamis, 4 Oktober 2012, Pukul 19.30 WIB, di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan No. 17 - Jakarta 10270.

Dibuka: Dengan "Orasi Budaya Seni Grafis" oleh Tisna Sanjaya. Sedangkan Sarasehan "Posisi Seni Grafis di Kancah Seni Rupa Kontemporer Indonesia" Pukul 14.00 WIB. Pembicara : Aminuddin TH Siregar, Hendro Wiyanto,dan Ade Darmawan. Pameran untuk umum : 5 - 14 Oktober 2012 Pukul 10.00 - 18.00 WIB.

2.Tanggal 4 sampai 10 November 2012

 Balai Sudjatmoko, Jl. Slamet Riyadi No.284, Solo-57141. T/F.62-271 741990.

3.Tanggal 23 November sampai 1 Desember 2012

Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto No.2, Yogya-55224. T.62-274 560404. Email: bby@bentarabudaya.com.

4.Tanggal 20 Desember sampai 3 Januari 2013

Bentara Budaya Bali, Jl. Prof. IB. Mantra No.88A, By Pass Ketewel, Bali.T.62-361294029,F.62-361294488. Email: bentarabudayabali@hotmil.com. 

 

MENGENAL SENI GRAFIS INDONESIA

Apa itu seni grafis Indonesia? Inilah jawabannya. Semenjak 1948, teknik cukilan lino adalah cetakan grafis pertama di Indonesia yang mulai diterima sebagai seni dan posisinya dipandang sejajar dengan seni lukis yang terlebih dahulu dikenal. Mungkin ini adalah alasan yang disediakan oleh sejarah mengapa kemudian teknik relief (atau dalam istilah Indonesia “teknik cetak tinggi”) semisal cukilan kayu (woodcut), cukilan lino (linocut) lebih populer ketimbang teknik-teknik yang  lain.

Namun, di luar itu, popularitas teknik relief ini terjadi lebih dikarenakan oleh kemudahan material serta keleluasaan seniman dalam menjalani proses mencetak. Sebab teknik relief print atau cetak tinggi tidak selamanya membutuhkan mesin cetak. Biaya yang tinggi untuk pengadaan material dan mesin cetak pada teknik litografi dan intaglio, dilihat pada perbandingan di sisi lainnya, cukup membuat teknik relief menjadi teknik yang paling ekonomis.

Sebelum 1948 memang sudah muncul teknik cetak intaglio dan litografi seperti yang dikerjakan oleh Mas Pirngadie. Hasil-hasilnya bisa kita temukan pada zaman kolonial. Akan tetapi penting untuk dicermati pula bahwa sesungguhnya terdapat perbedaan paham dalam hal fungsi cetakan grafis, khususnya antara masa kolonial dan kemerdekaan. Perbedaan-perbedaan dalam memahami ini kelak muncul ketika teknik-teknik cetak lainnya mulai diterima secara berangsur-angsur sebagai “kerja seni”. Proses penerimaan tersebut seiring dengan terciptanya pemahaman tentang seni grafis yang berbeda-beda dari masa ke masa.

Di Indonesia misalnya, pada dekade 1970-an, teknik cetak saring (sablon) berkembang pesat dan mulai diterima sebagai seni dan dikelompokkan ke dalam salah satu teknik seni grafis. Sementara di Vietnam, pada dekade yang sama, sablon muncul sebagai poster-poster propaganda perang. Dan dengan fungsi yang sama, teknik sablon muncul pada poster-poster revolusi pada akhir 1940-an di Indonesia.

Tak berhenti hanya sampai di situ. Yang kemudian tak kalah menarik dicermati adalah bahwa istilah “seni grafis” yang pada akhir 1950-an semakin sering dipakai guna mewakilkan segenap hal yang berhubungan dengan proses cetak-mencetak gambar dengan memanfaatkan selembar plat (kayu, logam, batu), sesungguhnya adalah pengertian yang mengadopsi terma printmaking dan graphic art sekaligus.

Dengan demikian, pengertian “seni grafis” di Indonesia bisa dimaknai secara dinamis dan leluasa: ia adalah sejenis seni yang dikerjakan setelah melalui proses cetakan dengan bersandar pada kualitas cetak dengan menyediakan bukti edisi sampai batas tertentu. Pada titik ini, sepanjang sejarahnya, praktik seni grafis yang berkembang tidak selamanya mematuhi aturan-aturan edisi cetak secara internasional.

Maka akan sangat tidak mengherankan apabila kita bersandar pada pengertian yang luwes itu, di konteks akademi seni rupa, pelajaran semisal fotografi bisa ditemukan di Studio Seni Grafis. Dan begitupula apa yang kemudian disebut dengan “digital print” – satu atau beberapa citra/gambar/foto yang direkayasa maupun tidak dengan memanfaatkan software tertentu di komputer untuk kemudian dicetak pada sehelai kertas/photopaper/kanvas dengan edisi maupun tidak – (pernah) diterima dan dinyatakan sah sebagai bagian dari “seni grafis” Indonesia. 

Dengan begitu, istilah “seni grafis” di akademi-akademi seni rupa Indonesia cenderung mengarah pada pengertian graphic art (perhatikan makna leksikal graphic – grafis dan art – seni) yang mana masih mencakup serta melayani hasil kerja mahasiswanya melalui medium: printmaking, fotografi, drawing, buku seni, kaligrafi, tipografi, digital print (cetak digital) serta perpaduan yang mungkin terjadi antar medium tersebut. (Aminudin).

 

MENEGAKKAN KONVENSI SENI GRAFIS INDONESIA

Perlu segera ditegaskan bahwa Trienale Seni Grafis ke-4 pada tahun ini masih mengusung semangat yang sudah dibangun pada penyelenggaraan sebelumnya, yaitu kembali pada teknik cetak konvensional yang selama ini sudah akrab di mata publik Indonesia. Kategori teknik yang dimaksud dalam konteks trienale ini adalah karya-karya seni grafis yang masih bisa dikenali dengan merujuk pada sejumlah pembagian berikut: cetak tinggi (cukilan kayu, lino), cetak datar (litografi), cetak dalam (etsa, mezzotint, engraving, dry point, collagraphy) dan cetak saring (sablon). Sementara itu, di beberapa negara,  kategori teknik tersebut terbagi ke dalam prinsip sebagai berikut: relief (cukilan kayu, lino), intaglio (etsa, dan sebagainya), planografi (litografi, monotipe) dan stensil (sablon).

Oleh karena itu, karya-karya yang dibayangkan masuk ke dalam trienale kali ini adalah karya-karya yang memperlihatkan kelayakan prosedur cetak; memenuhi standar konvensi (dengan pencantuman nomor “edisi” termasuk aturan-aturan artist proof dan test print (TP) apabila diperlukan).

Alasan-alasan yang melatari mengapa trienale ini kembali kepada konvensi antara lain adalah konsekuensi yang terkait dengan penggunaan istilah “seni grafis” itu sendiri. Oleh sebab itu, karya-karya yang diajukan ke trienale dan dinilai berada di luar kategori teknik tersebut hanya akan membuat substansi trienale ini menjadi tidak masuk akal. Dengan begitu pula, kami sangat menyadari bahwa komitmen dan konsistensi ideologi trienale ini perlu dijaga.

Sulit disangkal bahwa pemberlakuan konvensi ini akan mudah dicurigai sebagai batasan yang bisa mengurung peluang seniman untuk melakukan eksplorasi maupun eksperimentasi proses kerja cetak. Akan tetapi, asumsi tersebut meleset. Trienale terakhir justru memperlihatkan tanda-tanda bahwa konvensi seni grafis tidak selamanya mempersempit ruang gerak seniman. Namun demikian, dari karya-karya yang dikirim ke trienale, kentara bahwa asumsi-asumsi yang demikian itu serta merta dipatahkan, sebab tidak sedikit justru seniman berhasil mendemonstrasikan kecakapan-kecakapan mereka pada teknik cetak, sekaligus juga membuktikan bahwa konvensi teknik cetak masih memiliki kekuatan-kekuatan – yang akhirnya menjadikan seni grafis demikian khas dan berkarakter. Salah satu parameter penilaian pada trienale saat itu adalah bagaimana koherensi antara keterampilan teknik dan tema bisa terjadi dan satu sama lain saling mengikat.

Pada trienale sebelumnya cukilan-cukilan kayu berwarna Irwanto “Lentho” yang berukuran besar-besar atau kehalusan cukilan geometrik A.T. Sitompul, misalnya, berhasil mengekspos kekuatan teknik manual yang prima. Sementara album etsa Winarso Taufik yang dikerjakan dengan detail-detail serta prosedur pengasaman pada plat cetak segera mengingatkan kita pada proyek Los Caprichos-nya Goya yang gelap dan pesimis pada peradaban manusia. Kenyataan ini cukup membuktikan bahwa teknik secara substansial tidak pernah membatasi. Ini semua berpulang ke kecerdikan seniman memanfaatkan apa-apa yang sudah tersedia. Maka penting untuk dicermati bahwa trienale ini kemudian membayangkan karya-karya seni grafis konvensional yang terdiri dari keragaman serta kekayaan teknik dan tema bermunculan.

Trienale Seni Grafis yang telah tiga kali diselenggarakan sejak 2003  oleh Bentara Budaya  adalah trienale yang mengakomodasi realitas praktik seni grafis tanahair yang harus diakui sebagai trienale yang senantiasa mengalami perkembangan secara pasang-surut. Salah satu faktor utama yang melatari kondisi tersebut adalah minimnya ruang apresiasi terhadap seni dalam bentuk: langkanya pameran-pameran khusus seni grafis atau ketersediaan ruang studio dan fasilitas cetak bagi seniman.

Tujuan trienale ini, selain berperan sebagai jawaban atas kelangkaan event-event seni grafis; sebagai arena perjumpaan karya-karya para pegrafis; sebagai ajang untuk mengukur titik-titik perkembangan; sebagai momen untuk mencatat kuantifikasi pegrafis secara individu maupun komunitas; trienale ini adalah juga upaya untuk melakukan pengukuhan terhadap apa yang disebut “konvensi seni grafis di Indonesia”.

Di masa yang akan datang, cakupan tujuan tersebut dibayangkan bisa melebar ke kawasan Asia Tenggara dengan mengandaikan perkembangan sejarah seni grafis yang relatif sama di masing-masing negara di kawasan ini. Dengan begitu, dengan keikutsertaan para pegrafis dari kawasan ini, perkembangan seni grafis Asia Tenggara di kemudian hari diharapkan bisa terbaca secara lebih jernih. Dan melalui hasil pembacaan inilah kemudian diharapkan tercipta suatu pemahaman akan keragaman, tak hanya soal aneka peristilahan, tetapi juga soal teknik-teknik dalam seni grafis – yang barangkali mengingkari konvensi-konvensi yang mapan dalam kacamata Barat.

Trienale seni grafis kali ini meyakini bahwa konvensi-konvensi atau aturan-aturan yang mengikat pada karya seni grafis seperti sistem edisi, penomoran, proses mencetak, bahan-bahan cetak (kertas, tinta, aspal, dan sebagainya) tidak selamanya bisa diimplementasikan secara akurat di pelbagai bangsa dan pelbagai negara.

Dengan begitu, kita bisa membayangkan akan selalu tercipta suatu penyimpangan, pengadaptasian “aturan” yang bertalian dengan penyesuaian diri antara seniman dengan ketersediaan bahan-bahan. Akan tetapi, tidak berarti bahwa tata aturan seni grafis seluruhnya ditolak dan ditinggalkan. Justru, hal yang kemudian menarik dicermati adalah bagaimana perkembangan tersebut pada gilirannya memunculkan “konvensi lain” sesuai dengan “konteks” yang saling mengikat dan mempengaruhi satu sama lain.

Tentu saja, trienale tahun ini tidak serta-merta berkutat pada hal ihwal teknik semata. Sudah barang tentu, sodoran tema-tema aktual yang merepresentasikan realitas-realitas sosial, budaya, politik maupun ekonomi Indonesia maupun global tetap menjadi komponen pertimbangan yang tak kalah signifikan.Dengan dasar asumsi inilah, Trienale Seni Grafis ini dijalankan. (Aminudin TH Siregar-Ketua Tim Juri Trienale).

                                       -------------------------------------------------------

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



KOMENTAR

Tidak Ada Komentar

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter